Kisah Kamir Santoso, 'Si Ular' Lapas di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah menganggap residivisdari Lapas Nusakambangan bernama Kamir Santoso alias Salim sebagai penjahat luar biasa.Pasalnya, di lembaga pemasyarakatan (Lapas) manapun pun ia ditempatkan, ia selalu berupaya mempengaruhi petugas untuk menjadi bagian dalam sindikat pengedar narkobainternasional.
"Dia itu memang ular. Ditaruh di LP mana saja pasti dia memengaruhi petugas," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sihabudin di kantornya, Rabu (28/12).
Sihabudin mengatakan, selain berupaya mempengaruhi petugas, Kamir juga selalu berupaya untuk mencari celah melarikan diri. Upayanya itu membuahkan hasil dengan berhasil melarikan diri dari Lapas Nusakambangan pada 2009 lalu.
Kamir Santoso alias Salim, gembong narkoba yang mengendalikan peredaran sabu dan ekstasi dari berbagai lembaga pemasyarakatan (LP) di Indonesia ternyata telah ditangkap polisi Cina sejak Desember 2010 lalu. Kamir yang menghilang dari Indonesia sejak 2009 lalu merupakan bagian dari sindikat peredaran narkoba internasional.
Selama di Indonesia, Kamir pernahdikurung di LP Tangerang, RumahTahanan Salemba Jakarta Pusat, LP Banceui Bandung, LP Nusakambangan, Jawa Tengah, dan LP Cipinang Jakarta Timur.
Di Nusakambangan, Kamir mengendalikan peredaran narkoba sejak lima tahun lalu dengan melibatkan Kepala LP Marwan Adli, Kepala Kesatuan Pengamanan LP Iwan Syaefudin, dan Kepala Sub Bidang Pembinaandan Pendidikan LP Fob Budhiyono.Tiga anggota keluarga Marwan, yaitu Rinal Kornial, Andhika Permana, dan Dhiko Aldila pun ikut terlibat.
Pada 2009 lalu, Kamir dibebaskandari LP Cipinang dengan pengawalan sejumlah preman pada dini hari. Setelah itu, keberadaan Kamir tak diketahui. Polisi Cina menangkapnya di sebuah apartemen di Guangzhou beserta tujuh kilogram sabu seharga Rp 14 miliar, bahan kimiaprekursor, dan alat-alat pengolahnya.

Tidak ada komentar: